Masyarakat lampuuk Melakukan Pelepasan 2 Jenis Anak Penyu

Posted by Hatake Maslim Monday, April 8, 2013 0 komentar
Hari ini, 8 April 2013, Masyarakat Lampu'uk beserta muspida Aceh Besar dan Muspika Kecamatan Lhoknga melakukan pelepasan tukik. Pelepasan di lakukan di Pantai Babah Dua Lampu'uk. Kegiatan pelepasan ini, merupakan kegiatan tahun kedua yang dilakukan di pantai babah dua. setelah pada tahun pertama berhasil melepas 165 ekor tukik jenis penyu lekang, pada tahun ini, penangkaran babah dua yang juga di kelola oleh masyarakat berhasil menetaskan 115 ekor penyu lekang dan 17 ekor jenis penyu belimbing.

Tukik Jenis Penyu Belimbing yang berhasil menetas di lampuuk

sedangkan untuk pelepasan nanti, akan di lepaskan sebanyak 109 ekor, dengan rincian 99 ekor jenis penyu lekang dan 10 ekor jenis penyu belimbing. kegiatan ini juga akan di meriahkan oleh anak-anak sekolah dari berbagai sekolah dan jenjang pendidikan yang ada di sekitar banda aceh dan aceh besar.

kegiatan di buka oleh pangloma laot lampu'uk, selaku lembaga adat tertinggi di kecamatan lampu;uk yang mengurusi masalah pesisir. selain siswa-siswi sekolah, kegiatan ini juga di hadiri berbagai LSM lingkungan yang peduli dengan kelestarian penyu. 
Read More..

Sandwatcher Aceh Melakukan Pelepasan Penyu di Lhoknga

Posted by Hatake Maslim Saturday, April 6, 2013 0 komentar
Hari ini, 6 April 2013, Para Sandwatcher Aceh (Sebutan Untuk Pegiat Sandwatch) melakukan kegiatan pelepasan penyu di pantai Lhoknga. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan praktek pembelajaran yang dilakukan oleh siswa/siswi SMA N 1 Lhoknga dan MTsN Lhoknga Sebagai Sandwatcher Aceh. Kegiatan akan di mulai pada pukul 16.00 WIB. Kegiatan ini juga turut di hadiri oleh masyarakat setempat, dan muspika Kecamatan Lhoknga. 

Ilustrasi Pelepasan

Para Siswa-siswi tersebut akan didampingi oleh guru dan pendamping dari tim sandwatch Aceh. Kegiatan yang merupakan pertama dilakukan oleh sandwatcher tersebut, merupakan salah satu pengalaman yang penting bagi mereka. karena selain menambah ilmu dan wawasan mereka, juga meningkatkan kesadaran mereka tentang perlunya kelestarian satwa langka seperti penyu tersebut.

Kegiatan yang merupakan praktek lapangan tersebut, bukan hanya kegiatan pelepasan biasa. karena mereka juga nantinya akan melakukan pengambilan data terhadap tukik-tukik tersebut sebelum dilepas. juga nantinya mereka akan bersama-sama melakukan teknik pelepasan penyu yang benar. 
Read More..

Perlunya Menjaga Lingkungan

Posted by Hatake Maslim Monday, March 18, 2013 0 komentar
Lingkungan merupakan salah satu hal yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia juga makhluk-makhluk lain di Bumi ini. Sebagai satu-satunya makhluk yang memiliki akal dan pikiran, manusia sebagai khalifah, memiliki kewajiban untuk menjaga lingkungan kita demi kenyamanan dan keharmonisan kehidupan. Karna lingkungan sendiri merupakan tempat berinteraksi berbagai spesies makhluk hidup. Banyaknya jumlah manusia pada zaman sekarang ini, seharusnya dapat lebih membuat lingkungan terawatt dna dalam kondisi yang nyaman. Tapi sebaliknya, bukanya menjaga, malah semakin banyak manusia, semakin banyak pula kerusakan yang di buatnya.

Seharusnya sebagai khalifah, kita wajib menjaga keadaan lingkungan, karna ini berdampak langsung terhadap kehidupan manusia itu sendiri dan spesies makhluk hidup lain yang tinggal di lingkungan tersebut. Bukanya hanya itu, hal ini juga memberi dampak terhadap planet bumi sendiri, sebagai planet yang menjadi tempat hidup banyak spesies makhluk hidup.


Dari itu, sebagai leader, manusia memiliki kewajiban menjaga dan merawat kondisi lingkungan, bukan malah merusaknya. Pemahaman seperti ini harus sudah di tanamkan sejak dari kecil. Oleh sebab itu, kita harus aktif untuk merubah pola piker masyarakat sekarang, yang hanya peduli dengan politik, uang, ekonomi dan korupsi.


Maka sebagai salah satu manusia yang hidup di muka bumi ini, mari bersama kita jaga lingkungan dengan perbuatan-purbuatan positif terhadap lingkungan dan tidak merusak keberagamannya. Bukan hanya diam menonton, kita wajib turun serta dalam menjaga dan memelihara lingkungan.

Demi kelestarian dan kenyamanan 
Read More..

Peran Penting Masyarakat Dalam Menjaga Kelestarian Penyu

Posted by Hatake Maslim Saturday, March 16, 2013 2 komentar
Penyu yang di dunia saat ini hanya tersisa 7 spesies, perlu mendapatkan perhatian khusus. Penanganan yang tepat akan mengembalikan populasi spesies ini dalam keadaan normal. Kondisi sekarang membuat keberadaan penyu terancam punah, hal ini di karenakan berbagai faktor yang membuat populasinya semakin hari semakin menurun. Bukan tidak mungkin dalam beberapa puluh tahun kedepan, kita hanya bisa melihat penyu melalui gambar karena keberadaanya yang sudah punah di muka bumi ini.

Kondisi ini, bisa di atasi dengan bantuan masyarakat. Hal ini di karenakan masyarakat merupakan faktor utama menuruannya populasi penyu. Hal ini dapat di lihat dari maraknya perburuan telur penyu, tingginya konsumsi daging penyu, sampai ke penggunaan aksesoris yang terbuat dari bahan tubuh penyu. Melihat hal ini, kita tentunya sangat miris, di karenakan makhluk lucu ini merupakan salah satu reptil laut yang masih tersisa.
Tukik Penyu Lekang Yang Akan Menuju Laut Lepas

 Oleh sebab itu, peran masyarakat sangat penting dalam menjaga keberadaan spesies ini, dan menghindarkannya dari ancaman kepunahan. Bisa di mulai dari hal-hal kecil dengan tidak mengkonsumsi telur penyu, daging penyu, serta tidak menggunakan aksesoris yang terbuat dari tubuh penyu.

Tukik Penyu Belimbing yang baru menetas

setelah itu menjaga pantai habitat penelurannya serta bagi para nelayan agar tidak memasang jaring di daerah kawasan habitat makan si penyu tersebut. Indonesia merupakan salah satu negara tempat berdiamnya 6 spesies populasi penyu. Oleh karena itu, kita sebagai warga negara Indonesia wajib membantu pelestarian penyu agar bisa terus hidup di perairan Indonesia dan dunia.


Read More..

AMPHIBI

Posted by Hatake Maslim Tuesday, March 5, 2013 0 komentar

A.                Definisi dan karakteristik Amphibi
Kata amphibi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata, yaitu “Amphi” (rangkap) dan “bios” (hidup). Atau dapat diartikan sebagai hewan bertulang belakang (vertebrata) dengan kelembaban kulit yang tinggi, tidak tertutupi oleh rambut yang hidup di dua alam; yakni di air dan di daratan. Karena itu amphibi diartikan sebagai hewan yang mempunyai dua bentuk kehidupan yaitu di darat dan di air. Pada umumnya, amphibia mempunyai siklus hidup awal di perairan dan siklus hidup kedua adalah di daratan ( Zug, 1993).
Pada fase berudu amphibi hidup di perairan dan bernafas dengan insang. Pada fase ini berudu bergerak menggunakan ekor. Pada fase dewasa hidup di darat dan bernafas dengan paru-paru. Pada fase dewasa ini amphibi bergerak dengan kaki. Perubahan cara bernafas yang seiring dengan peralihan kehidupan dari perairan ke daratan menyebabkan hilangnya insang dan rangka insang lama kelamaan menghilang. Pada anura, tidak ditemukan leher sebagai mekanisme adaptasi terhadap hidup di dalam liang dan bergerak dengan cara melompat. (Zug, 1993)  
Sedangkan, ciri-ciri khusus dari amphibi yaitu:
·         Tubuh diselubungi kulit yang berlendir serta tidak mempunyai sisik
·         Merupakan hewan berdarah dingin (poikiloterm)
·         Mempunyai jantung yang terdiri dari tiga ruangan yaitu dua serambi dan satu bilik
·         Mempunyai dua pasang kaki dan pada setiap kakinya terdapat selaput renang yang terdapat di antara jari-jari kakinya dan kakinya berfungsi untuk melompat dan berenang
·         Memiliki dua lubang hidung yang berhubungan dengan ruang mulut yang mempunyai klep untuk menahan air
·         Umumnya pada mulut terdapat gigi dan lidah sering kali dapat dikeluarkan
·         Matanya mempunyai selaput tambahan yang disebut membrana niktitans yang sangat berfungsi waktu menyelam
·         Pernapasan pada saat masih kecebong berupa insang, setelah dewasa alat pernapasannya berupa paru-paru dan kulit dan hidungnya mempunyai katup yang mencegah air masuk ke dalam rongga mulut ketika menyelam
·         Berkembang biak dengan cara melepaskan telurnya dan dibuahi oleh yang jantan di luar tubuh induknya (pembuahan eksternal).
·         Otak memiliki 10 pasang sarang krainal
·         Fertilisasi secara internal dan ekternal dan umumnya ovivar dengan stadium larva dalam air dan bermetamorfosis menjadi dewasa.


B.                 Klasifikasi dalam Kelas Amphibi
Adapun kedudukan amphibia dalam sistem klasifikasi yaitu:
Kerajaan    : Animalia
Filum         : Chordata
Upafilum   : Vertebrata
Superkelas : Tetrapoda
Kelas         : Amphibia
Anggota amphibia terdiri dari 4 ordo yaitu Apoda (Caecilia), Urodela (Salamander), dan Anura ( katak dan kodok), Proanura (telah punah).


1.                  Ordo Caecilia
Ordo ini mempunyai anggota yang ciri umumnya adalah tidak mempunyai kaki sehingga disebut Apoda. Tubuh menyerupai cacing (gilig), bersegmen, tidak bertungkai, dan ekor mereduksi. Hewan ini mempunyai kulit yang kompak, mata tereduksi, tertutup oleh kulit atau tulang, retina ada beberapa spesies berfungsi sebagai fotoreseptor.
Ordo Caecilia mempunyai 5 famili yaitu Rhinatrematidae, Ichtyopiidae, Uraeotyphilidae, Scolecomorphiidae, dan Caecilidae. Famili Caecilidae mempunyai 3 subfamili yaitu Dermophinae, Caecilinae dan Typhlonectinae ( Webb et al, 1981).
Famili yang ada di indonesia adalah Ichtyopiidae. Anggota famili ini mempunyai ciri-ciri tubuh yang bersisik, ekornya pendek, mata relatif berkembang. Reproduksi dengan oviparous. Larva berenang bebas di air dengan tiga pasang insang yang bercabang yang segera hilang walaupun membutuhkan waktu yang lama di air sebelum metamorphosis. Anggota famili ini yang ditemukan di indonesia adalah Ichtyophis sp., yaitu di propinsi DIY.
2.                  Ordo Urodela (Caudata)
Ordo ini mempunyai ciri bentuk tubuh memanjang, mempunyai anggota gerak dan ekor serta tidak memiliki tympanum. Tubuh dapat dibedakan antara kepala, leher dan badan. Beberapa spesies mempunyai insang dan yang lainnya bernafas dengan paru-paru. Pada bagaian kepala terdapat mata yang kecil dan pada beberapa jenis, mata mengalami reduksi. Fase larva hampir mirip dengan fase dewasa. Anggota ordo Urodela hidup di darat akan tetapi tidak dapat lepas dari air. Pola persebarannya meliputi wilayah Amerika Utara, Asia Tengah, Jepang dan Eropa.  Urodella mempunyai 3 sub ordo yaitu Sirenidea, Cryptobranchoidea dan Salamandroidea. Sub ordo Sirenidae hanya memiliki 1 famili yaitu Sirenidae, sedangkan sub ordo Cryptobranchoidea memiliki 2 famili yaitu Cryptobranchidae dan Hynobiidae. Sub ordo Salamandroidea memiliki 7 famili yaitu Amphiumidae, Plethodontidae, Rhyacotritoniade, Proteidae, Ambystomatidae, Dicamptodontidae dan Salamandridae. ( Pough et. al., 1998)
Salamander memiliki tubuh yang memanjang dan memiliki ekor. Sebagian besar Salamander memiliki empat kaki, meskipun tungkai pada beberapa spesies akuatik jelas sekali mereduksi. Ada 2 kecenderungan yang cukup menonjol dalam proses evolusi Salamander yaitu hilangnya (mereduksi) paru-paru serta adanya paedomorphosis (adanya karakteristik larva pada Salamander dewasa) (Pough et al., 1998).
Salamander merupakan kelompok Amphibia yang berekor. Semua anggota dari family ini memiliki ekor yang panjang, tubuh silinder yang memanjang serta kepala yang berbeda. Sebagian besar memiliki tungkai yang berkembang dengan baik, biasanya pendek tergantung pada ukuran tubuh. Tengkoraknya mereduksi dikarenakan adanya beberapa bagian yang menghilang. Sebagian besar anggotanya memiliki fertilisasi internal meski tak satu pun anggota dari family ini yang memiliki organ kopulasi. Fertilisasi internal terjadi ketika jantan mendepositkan spermatopora yang kemudian akan diterima oleh betina melalui bibir kloakanya (Zug, 1993).
3.                  Ordo Anura
Nama anura mempunyai arti tidak memiliki ekor. Seperti namanya, anggota ordo ini mempunyai ciri umum tidak mempunyai ekor, kepala bersatu dengan badan, tidak mempunyai leher dan tungkai berkembang baik. Tungkai belakang lebih besar daripada tungkai depan. Hal ini mendukung pergerakannya yaitu dengan melompat. Pada beberapa famili terdapat selaput diantara jari-jarinya.
Membrana tympanum terletak di permukaan kulit dengan ukuran yang cukup besar dan terletak di belakang mata. Kelopak mata dapat digerakkan. Mata berukuran besar dan berkembang dengan baik. Fertilisasi secara eksternal dan prosesnya dilakukan di perairan yang tenang dan dangkal. (Duellman and Trueb, 1986)
Ordo Anura dibagi menjadi 27 famili, yaitu:
·         Ascaphidae                             Leiopelmatidae
·         Bombinatoridae                      Discoglossidae
·         Pipidae                                    Rhinophrynidae
·         Megophryidae                         Pelodytidae
·         Pelobatidae                             Allophrynidae
·         Bufonidae                               Branchycephalidae
·         Centrolenidae                          Heleophrynidae
·         Hylidae,Leptodactylidae        Myobatrachidae
·         Pseudidae                                Rhinodermatidae
·         Sooglossidae                           Arthroleptidae
·         Dendrobatidae                         Hemisotidae
·          Hyperoliidae                          Microhylidae,
·          Ranidae                                  Rachoporidae
Ada 5 Famili yang terdapat di indonesia yaitu Bufonidae, Megophryidae, Ranidae, Microhylidae dan Rachoporidae. Adapun penjelasan mengenai kelima famili tersebut adalah sebagai berikut:
a)                  Bufonidae
Famili ini sering disebut kodok sejati. Ciri-siri umumnya yaitu kulit kasar dan berbintil, terdapat kelenjar paratoid di belakang tympanum dan terdapat pematang di kepala. Mempunyai tipe gelang bahu arciferal.
Sacara diapophisis melebar, Bufo mempunyai mulut yang lebar akan tetapi tidak memiliki gigi. Tungkai belakang lebih panjang dari pada tungkai depan dan jari-jari tidak mempunyai selaput. Fertilisasi berlangsung secara eksternal.
Famili ini terdiri dari 18 genera dan kurang lebih 300 spesies. Beberapa contoh famili Bufo yang ada di Indonesia antara lain: Bufo asper, Bufo biporcatus, Bufo melanosticus dan Leptophryne borbonica. ( Eprilurahman, 2007).
b)                  Megophryidae
Ciri khas yang paling menonjol adalah terdapatnya bangunan seperti tanduk di atas matanya, yang merupakan modifikasi dari kelopak matanya. Pada umumnya famili ini berukuran tubuh kecil. Tungkai relatif pendek sehingga pergerakannya lambat dan kurang lincah.
Gelang bahu bertipe firmisternal. Hidup di hutan dataran tinggi. Pada fase berudu terdapat alat mulut seperti mangkuk untuk mencari makan di permukaan air. Adapun contoh spesies anggota famili ini adalahMegophrys montana dan Leptobranchium hasselti. ( Eprilurahman, 2007)
c)                  Ranidae
Famili ini sering disebut juga katak sejati. Bentuk tubuhnya relatif ramping. Tungkai relatif panjang dan diantara jari-jarinya terdapat selaput untuk membantu berenang. Kulitnya halus, licin dan ada beberapa yang berbintil.
Gelang bahu bertipe firmisternal. Pada kepala tidak ada pematang seperti pada Bufo. Mulutnya lebar dan terdapat gigi seperti parut di bagian maxillanya. Sacral diapophysis gilig. Fertilisasi secara eksternal dan bersifat ovipar.
Famili ini terdiri dari 36 genus. Adapun contoh spesiesnya adalah: Rana chalconota, Rana hosii, Rana erythraea, Rana nicobariensis, Fejervarya cancrivora, Fejervarya limnocharis, Limnonectes kuhli, Occidozyga sumatrana.( Eprilurahman,2007).
d)                 Microhylidae
Famili ini anggotanya berukuran kecil, sekitar 8-100 mm. Kaki relatif panjang dibandingkan dengan tubuhnya. Terdapat gigi pada maxilla dan mandibulanya, tapi beberapa genus tidak mempunyai gigi.
Karena anggota famili ini diurnal, maka pupilnya memanjang secara horizontal. Gelang bahunya firmisternal. Contoh spesiesnya adalah: Microhyla achatina. ( Eprilurahman, 2007)
e)                  Rachoporidae
Famili ini sering ditemukan di areal sawah. Beberapa jenis mempunyai kulit yang kasar, tapi kebanyakan halus juga berbintil.
Tipe gelang bahu firmisternal. Pada maksila terdapat gigi seperti parut. Terdapat pula gigi palatum. Sacral diapophysis gilig. Berkembang biak dengan ovipar dan fertilisasi secara eksternal ( Eprilurahman, 2007).
4.                  Ordo Proanura
Anggota-anggota ordo ini tidak dapat diketemukan atau dapat dikatakan telah punah. Anggota-anggota ordo ini hidupnya di habitat akuatik sebagai larva dan hanya sedikit saja yang menunjukkan perkembangan ke arah dewasa.
Ciri-ciri umumnya adalah mata kecil, tungkai depan kecil, tanpa tungkai belakang, kedua rahang dilapisi bahan tanduk, mempunyai 3 pasang insang luar dan paru-paru mengalami sedikit perkembangan. Amphibi ini tidak menunjukkan adanya dua bentuk dalam daur hidupnya (Duellman and Trueb, 1986).



C.                Morfologi Kelas Amphibi
Kelompok hewan amfibi adalah binatang bertulang belakang berkulit lembab tanpa bulu yang hidup di dua alam. Kebanyakan hewan amfibi pada waktu berupa berudu hidup di air dan bernapas dengan insang. Selanjutnya setelah dewasa hidup di darat dan bernapas dengan paru-paru dan kulit. Hewan amfibi termasuk kelompok hewan berdarah dingin, artinya hewan yang memanfaatkan suhu lingkungan untuk mengatur suhu tubuhnya.
Kepala dan badan lebar bersatu, ada dua pasang kaki atau anggota, tak ada leher dan ekor. Bagian dalam ditutupi dengat kulit basah halus lunak. Pada kepala mempunyai mulut yang lebar untuk mengambil makanan, 2 lubang hidung/ nares externa yang kecil dekat ujung hidung yang berfungsi dalam pernapasan, terdapat sepasang mata yang bulat, dibelakangnya terdapat 2 lubang pipih tertutup oleh membrane tympani yang berfungsi sebagai telinga untuk menerima gelombang suara. Tiap mata mempunyai kelopak mata atas dan bawah, serta di dalamnya mempunyai selaput mata bening membrane nictitans untuk menutupi mata apabila berada di dalam air. Di bagian ujung belakang badan dijumpai anus, lubang kecil untuk membuang sisa-sisa makananyang tak dicerna, urine dan sel-sel kelamin/ telur atau sperma dari alat reproduksi.
Kaki katak terdiri atas sepasang kaki depan dan sepasang kaki belakang. Kaki depan terdiri atas lengan atas (brancium), lengan bawah (antebrancium), tangan (manus), dan jari-jari (digiti). Pada kaki belakang terdiri atas paha (femur), betis (crus), kaki (pes) dan jari-jari (digiti).
Tubuh katak bentuknya bilateral simetris, dengan bagian sisi kiri dan kanan equal. Bagian tengah disebut medial, samping/lateral, badan muka depan adalah ujung anterior, bagian belakang disebutujung posterior, bagian punggung atau dorsal, sedang bagian muka ventral. Bagian badan terdiri atas kepala/ caput, kerongkongan/ cervik, dada/ thorax atau pectoral, perut atau abdomen, pantat pelvis serta bagian kaudal pendek.

D.                Anatomi dan fisiologi
1.                  Sistem Rangka
Rangka katak tersusun atas endoskeleton yang disokong oleh bagian-bagian yang lunak. Fungsi rangka adalah untuk melindungi bagian-bagian tubuh yang vital, melekatnya otot daging berguna untuk gerak dan berjalan. Pada fase cebong (berudu) tulang-tulang masih lunak.Kemudian pada fase dewasa menjadi keras. Tapi pada sambungan-sambungan tulang masih tetap lunak dengan permukaan yang licin.Tempurung kepala,vertebrae dan sternum merupakan skeleton axiale sedang kaki merupakan skeleton appendiculare.
2.                  Sistem Otot
Sistem otot pada amfibi, seperti sistem-sistem organ yang lain, sebagai transisi antara ikan dan reptil. Sistem otot paada ikan berpusat pada gerakana tubuh ke lateral, membuka dan menutup mulut serta gill apertura (celah insang) dan gerakan sirip yang relatif sederhana.Kebutuhan hidup di darat mengubah susunan ini.
            Sistem otot pada amfibi masih metamerik seperti pada ikan, tetapai tampak tanda-tanda perbedaan. Sekat horizontal membagi otot dorsal dan ventral. Bagian dari otot epeksial atau dorsal mempengaruhi gerakan kepala. Otot ventral adalah menjadi bukti dalam pembagian otot-otot setiap segmen tubuh amfibi.
3.                  Sistem Pencernaan
Di dalam mulut terdapat gerigi kecil di sepanjang rahang atas, dan ada gigi vomerin pada langit-langit mulut. Lidah berotot dan bfurfate (cabang dua) pada ujungnya, dan bertaut pada bagian anterior mulut. Saluran pencernaan mulai dari esophagus (bedinding lurus dan besar) langsung bersatu dengan lambung. Lambung memanjang dan erkelok ke samping kiri dan berotot. Usus terdiri dari intestinum (keci, panjang, berkelok-kelok), rectum yang langsung bersatu dengan cloaca. Hati dn pancreas mempunyai mempunyai saluran-saluran menuju ke duodenum, kandung empedu, lambung intestinum. Pada potongan melintang intestinum terdiri dari empat lapisan, yaitu: peritoneum, lapisan otot, submukosa dan mukosa (Brotowidjoyo, 1994: 56).
4.                  Sistem saraf
Sistem saraf pada amfibi terdiri atas sistem saraf sentral dan sistem saraf periforium. Sistem saraf sentral terdiri dari : encephalon (otak) dan medulla spinalisEnchephalon terdapat pada kotak otak (cranium). Pada sebelah dorsal akan tampak dua lobus olfactorium menuju saccus nasalis, dua haemisperium cerebri atau cerebrum kanan kiri yang berbentuk ooid yang dihubungkan dengan comisure anterior, sedangkan bagian anteriornya dergabung dengandienchepalon medialis. Dibagian belakang ini terdapat dua bulatan lobus opticus yang ditumpuk otak tengah tengah (mesenchepalon) sebelah bawahnya merupakan cerebreum (otak kecil). Dibelakang terdapat bagian terbuka sebelah atas yakni medulla oblongata yang berhubungan dengan medulla spinalis dan berakhir disebelah felium terminale (Jasin, 1984: 271).
5.                  Sistem respirasi
Respirasi adalah suatu proses penyediaan oksigen bagi tubuh. Sistem ini terdiri atas paru-paru (pulmo) dan cutan (kulit), serta lapisan rongga kulit. Alat-alat ini mempunyai permukaan yang basah (lapisan epithelium yang banyak mengandung pembuluh darah). Oksigen yang berasal dari udara larut dalam cairan permukaan respirasi dengan jalan difusi masuk ke pembuluh darah. Dalam proses ini hemoglobin memegang peranan dalam oksidasi yang selanjutnya akan dibawa ke jaringan-jaringan tubuh yang memerlukan. Sebagian besar karbondioksida diangkut oleh plasma darah dari jaringan ke alat respirasi. Struktur paru-paru amphibi masih sederhana. Paru-paru katak terdiri atas dua sakus yang elastis yang berisi lipatan yang membentuk kamar-kamar kecil yang disebut alviola, yang masing-masing diliputi oleh pembuluh-pembuluh kapiler. Masing-masing sakus paru-paru dihubungkan dengan saluran bronchi yang pendek, kemudian kedua bronchi bersatu menuju larynx (kotak suara) dengan lubangnya yang disebut glottis.
6.                  Sistem Reproduksi
Reproduksi pada amphibi ada dua macam yaitu secara eksternal pada anura pada umumnya dan internal pada Ordo Apoda. Proses perkawinan secara eksternal dilakukan di dalam perairan yang tenang dan dangkal.
Di musim kawin, pada anura ditemukan fenomena unik yang disebut dengan amplexus, yaitu katak jantan yang berukuran lebih kecil menempel di punggung betina dan mendekap erat tubuh betina yang lebih besar. Perilaku tersebut bermaksud untuk menekan tubuh betina agar mengeluarkan sel telurnya sehingga bisa dibuahi jantannya.
Reproduksi pada katak yaitu dengan cara fertilisasi eksternal, katak jantan menjepit katak betina ketika perkawinan (yaitu ketika telur dilepaskan dan sperma disemprotkan) (Brotowijdoyo.1989: 201).       
7.                  Sistem Kelenjar Endokrin
                  Sistem endokrin mirip dengan vertebrata tingkat tinggi.  Pada dasar otak terdapat glandula pituitari atauglandula hypophysa. Bagian anteriokelenjar ini pada larva menghasilkan hormon pertumbuhan. Hormon ini mengontrol pertumbuhan tubuh terutama panjang tulang. Bila seekor berudu diambil bagian anterior glandula hypophysanya, berudu tersebut tak akan tumbuh menjadi katak. Tapi bila potongan ini ditranspantasikan kembali, maka pertumbuhan akan terjadi sebagaimana mestinya. Pemberian hormon yang dihasilkan oleh bagian  anterior glandula hypophysa ini baik secara oral maupun suntik mengakibatkan pertumbuhan raksasa. Kelenjar paratiroid ada (tidak ada pada ikan), sebagai regulator kalsium dalam sistem endokrin.
           
E.                 Habitat dan persebaran
Amphibi muncul pada pertengahan periode Jura, pra era Paleozoik sebagai vertebrata yang tertua. Kebanyakan Amfibi adalah hewan tropis, karena sifatnya yang poikiloterm atau berdarah dingin. Amphibi memerlukan sinar matahari untuk mendapatkan panas ke tubuhnya, karena tidak bisa memproduksi panas sendiri.
Oleh karena itu banyak amphibi yang ditemukan di wilatah tropis dan sub tropis, termasuk di seluruh indonesia.
Amphibi umumnya merupakan makhluk semi akuatik, yang hidup di darat pada daerah yang terdapat air tawar yang tenang dan dangkal. Tetapi ada juga amphibi yang hidup di pohon sejak lahir sampai mati, dan ada juga yang hidup di air sepanjang hidupnya.
Amphibi banyak ditemukan di areal sawah, daerah sekitar sungai, rawa, kolam, bahkan di lingkungan perumahan pun bisa ditemukan.

F.     Relasi dengan Manusia
Adapun relasi manusia dengan katak adalah sebagai berikut:
a.        Digunakan untuk pengobatan khususnya di negara Cina
b.        Dijadikan bahan kosmetik
c.        Dijadikan sebagai bahan penelitian ilmu pengetahuan
d.       Digunakan sebagai umpan ikan
e.        Salah satu kelas amphibi yaitu Bufo melanosticus sebagai alat tes kehamilan
f.         Digunakan sebagai bahan makanan
g.        Dijadikan hewan peliharaan
DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Reece, Michele. 2003. Biologi Edisi Kelima-Jilid III. Jakarta: Erlangga.
Djarubito Brotowidjoyo, Mukayat.1994. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.
Jasin, Maskoeri.1992.Zoologi Vertebrata. Sinar Wijaya:Surabaya Hal 73-84
Tuti Kurniati, M.Pd, Bintarti Yusriana, M.Si, Sumiyati Sa’adah M.Si. 2011. Zoologi  Vertebrata. Prodi Pendidikan Biologi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. UIN SGD Bandung.
Read More..